Postingan

Virtual Running Race: Alternatif Lomba Lari Murah

Gambar
Lomba lari, sekarang sudah banyak diminati oleh semua orang, tidak terbatas usia, dan wilayah. Misalnya saja lomba Mandiri Jogja Marathon 2017, yang diadakan di Yogyakarta, ribuan orang dari luar kota mau datang ke Yogyakarta secara sukarela untuk mengikuti kompetisi tersebut. Begitu juga dengan Maybank Bali Marathon, Bank Jatenk Borobudur Marathon, dan berbagai marathon-marathon di Indonesia dan di dunia. Sebagai informasi tambahan, setiap mengikuti marathon itu nggak murah. Misalnya aja buat Bali Marathon yang saya pernah ikut di 2015, paling tidak harus mempersiapkan uang Rp4.000.000,- dimana bayar lomba nya udah 325rb, terus bayar akomodasi (pastinya pesawat Jogja - Denpasar PP Rp2juta) belum juga nginep tiga hari dua malam (kayaknya habis Rp1,25juta), makan, dan pritilan-pritilan lomba lainnya.  Kalau dipikir-pikir mahal juga ya ikutan lomba lari! Dan banyak banget yang seperti saya, setiap tahun bisa ikut empat hingga enam lomba lari baik di dalam wilayah maupun ...

Bucketlist 2018

Gambar
Berbicara resolusi memang membosankan. Kadang terlaksana, kadang enggak, dan kebanyakannya enggak sih. Mumpung masih dalam suasana tahun baru, dan update stories IG orang-orang nulisin resolusi, rasanya enggak afdol kalau nggak ikutan bikin. Namun, saya memilih menulisnya bukan resolusi, melainkan sebagai bucketlist. Nah bucketlist ini merupakan harapan-harapan yang akan dilakukan di 2018. Berikut menurut saya; 1. Bikin BPJS Men , aku ndak punya asuransi sejak pindah dari 123 ke Telkomsel, karena di Telkomsel pakainya AXA. Sepele sih, tapi ini harus, meski per bulan harus tambah billing. 2. Test TOEFL Terakhir kali test 2015, dan sejauh 2017 enggak sempat ngelamar dosen ataupun schoolarship. 3. Beli Sepeda Dulu pengen banget beli sepeda. Meski cuma sejuta, tapi sampai sekarang belum keturutan. 4. Register GYM Membership Daftar Gym at least buat satu bulan, yang penting pernah ngerasain dong. Biar hits. :D 5. Singapore - Johor Bahru Dikarenakan udah lama nggak pulang...

Personal Kaledioskop 2017

Gambar
Karena persiapan 2018, semua-semua agenda Desember 2017 ini tentang Kaleidoskop deh. Nah kali ini saya juga mau bikin Kaleidoskop 2017 Personal aja deh. Tahun 2017 ini ternyata nggak lebih baik dari tahun 2016 lalu. Meski ada peningkatan personal revenue (yang padahal juga nggak terlalu substantial, tapi lumayan lah), dan dari segi karir (emang punya :p) yang ternyata useless, ada beberapa hal yang dapat dipelajari di tahun ini. Masih Seputaran Telkomsel Di tahun 2017 ini ternyata kehidupanku nggak jauh-jauh dari obrolan Telkomsel. Ya, sepertinya saya gagal move on setelah April 2016 lalu meninggalkan Telkomsel Smart Office Jakarta. Mengapa? Karena tahun ini malah banyak agenda atau kegiatan yang Telkomsel banget (padahal udah nggak kerja di Telkomsel). Misalnya jadi MJM TelkomselRunners di bulan April, TCASH Activation Buddy bulan April hingga Agustus, BestCSAward di bulan November, dan NusantaRUN di bulan Desember. Terlebih parah adalah BestCSAward, yang which is, ...

Apa Rencanamu?

Gambar
Sebenarnya males banget kalau ditanya apa rencana saya? Semenjak beberapa bulan selo nganggur dan kebanyakan nonton Jane Bingum di Drop Dead Diva (I watched it 6 season in 3 week), saya jadi kepikiran untuk ikutan juga bikin planning (especially future home planning). Well, thanks mbak Heyo telah menginspirasi saya. Start from aspiring corporate employee, that was me at 26th. Now I am 28, dan saya belum punya apa-apa (self employed nor unemployed). So, I put myself to make a future plan. Setahun kedepan - 2018. Dalam satu tahun kedepan, jelas saya ingin memperbaiki cashflow saya, dan at least reaching double digit savings. Nah, kalau pengen double digit saving, at least aku harus saving 2 juta per bulan (It should be 2x12 = IDR 24juta), dan possible income should be IDR 5juta (karena living cost at least 3juta). Jadi kebayang kan kriteria kerjaan yang diinginkan aku. Kalau aku sih simple, at least bisa bayar kartu kredit, ada ID Card, ruangan yang separated. Movi...

28th Coming - Good Bye Club 27th!

Gambar
Ya, udah lama banget nggak ngeblog. Anyway, I want to celebrate myself that I already 28th, dan masih hidup di umur 28 adalah pencapaian. Dulu nggak kepikiran bisa sampai umur 28, karena I think I wanna join 27 club. Apa itu 27 Club? Seems like awkward, karena 27 club merupakan kumpulan artis papan atas yg meninggal di umur 27, beberapa diantaranya Amy Winehouse (my favorit diva), Kurt Cobain, dan Jim Morrisson. Mereka meninggal memang mostly karena overdosis drugs. Well sayangnya aku nggak pakai drugs. Anyway, memang aku nggak ada rencana sampai seumuran ini, karena pada dasarnya aku nggak bikin rencananya. Saya rasa cukup berjalan seiring berjalannya waktu. Dulu pernah bikin rencana, saat umurnya masih kuliah S1 gitu. Habis lulus S1, langsung S2, terus kerja di konsultan-konsultan ternama seperti Accenture, McKinsey, Delloite, dan kawan-kawan. Terus akhirnya cuma kesampaian sampai S2 dan nggak keterima kerja dimana-mana. Akhirnya pivot buat bikin startap. Nah, waktu bikin...

Start-Up, Jangan Remehkan Lulusan Sekolah Bisnis Ya!

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan GM saya mengenai isu pembubaran beberapa start-up dikarenakan oleh gagal dalam mengelola dana. Padahal di dalamnya pasti ada anggota tim yang merupakan lulusan sekolah bisnis ternama. Singkat kami, ini pasti karena tidak diperhatikannya tim bisnis yang ada di dalam kelompok tersebut. Ada kalanya para founder memperhatikan bahwa dalam start-up business ini juga memperhatikan anggota tim lulusan sekolah bisnis. Mengapa? 1 . Bisnis Teknologi tidak Melulu Berbicara Mengenai Kehebatan Teknologi Meski core business untuk start-up adalah menawarkan layanan dengan teknologi sulit, bukan berarti orang bisnis tidak berhak ikut campur. Terkadang beberapa start-up dengan ego founder teknologi tinggi selalu mengabaikan pendapat founder bisnis. Beberapa ajaran salah juga dari mahzab yang digembor-gemborkan dalam training singkat start-up, bagian bisnis itu hanya penting ketika produk sudah jadi, dan tinggal hard sales saja. Nah, ...

Website Review - Direktori Anak Mall Gotomalls.com

Gambar
Mall Paling Hits di Jakarta versi Saya, Pasific Place Kalau ditanya apa hobi saya? Hobi yang paling murah adalah nge-mall. Ya karena di mall, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam, jalan-jalan, liat-liat barang, dan nggak beli! Selain itu, di mall kita juga bisa ngadem, berteduh, maupun nyicipin makanan gratis (biasanya ada lho di supermarketnya). Hampir semua mall di kota besar di Pulau Jawa pada khususnya pernah saya samperin. Ya iyalah, kan sosialitak! Selain itu, saya juga pernah mampir ke beberapa mall di Bali, Makassar, dan Medan waktu perjalanan dinas dulu. Pada dasarnya sama aja sih, nggak berkesan banyak. Namanya juga mall. Nah, setelah direkomendasikan teman, saya menemukan portal menarik dengan nama Gotomall . Kayaknya oke banget nih, buat anak mall kayak saya, dan teman-teman socialite saya. Karena dulu pernah menemukan berbagai masalah, seperti mau pergi ke mall mana, atau mau makan di mall mana, atau cari barang cepet yang tenant nya ada di mall mana. Harapanny...

2016: Tahun Saya Keliling Indonesia

Gambar
Ini Indonesia, tepatnya di Medan Tahun ini mungkin saya menjadi orang yang beruntung, karena memiliki komplimen "jalan-jalan" keliling Indonesia. Sebenarnya bukan jalan-jalan untuk berwisata, namun banyaknya perjalanan dinas yang perlu dilakukan, membuat saya paling tidak sebulan sekali ada dua kali keluar kota. Meski tahun ini tidak mendapat jatah untuk piknik keluar negeri untuk bayak bekerja, namun ada okenya juga karena dengan banyaknya perjalanan dinas yang saya lakukan, tidak perlu mengeluarkan biaya sama sekali. Di tahun ini, saya bekerja di perusahaan telekomunikasi selama enam bulan (actually 3 bulan, tapi utang project 3 bulan lagi), dan sisanya saya membantu teman untuk sebuah asosiasi digital di Indonesia, yang mana masih terkait dengan perusahaan telekomunikasi tersebut. Karena melalui beberapa hal yang saya lakukan sekarang, saya mendapatkan komplimen korporat yang mana mewah banget. Nah, mau tau kota apa saja yang saya kunjungi di tahun ini? Berikut ri...

Gambaran Umum tentang "Career Path" si Kutu Loncat

Gambar
Setiap tahun di kampus saya, setidaknya ada empat kali periode wisuda, Januari, April, Agustus, Oktober. Nggak bisa dibayangkan kan, berapa banyak di Indonesia ini menelurkan wisudawan baru, baik diploma, sarjana maupun paska sarjana. Apapun itu, wisuda merupakan selebrasi yang wajib dirayakan, karena datangnya cuma sekali dalam setahun. Beberapa adik angkatan saya di kuliah, sering bertanya mengenai "baiknya gimana nih habis wisuda? mau ngapain atau kerja dimana?". Dan saya sendiri sebagai generasi Y (sekarang generasi Z), nggak bisa menyimpulkan enaknya kerja dimana, karena saya sendiri merasa nggak sukses buat urusan karir. Padahal saya-nya dulu kerja di Career Network Center, which is HR Consulting yang ngurusin orang cari kerja. Namun, saya nggak mau adik-adik angkatan saya mengikuti langkah yang sama. Generasi Y dan Z, pada umumnya suka berpindah kerja. Sering pindah kerja ini, sering disebut kutu loncat (aku sih nggak suka dengan istilahnya, karena ini istilah ...

Berhadapan dengan PRO? Perhatikan Hal ini biar Gak Rugi

Gambar
Pada beberapa waktu lalu, di saat sibuk-sibuknya, saya ditawari teman untuk membantu roadshow sebuah acara talkshow teknologi terkemuka. Nah, sangat disayangkan, vendor yang menanganinya adalah bukan orang yang profesional (PRO). Memang dari berbagai hal, karakter personal dari lead vendor ini memang tidak mencerminkan orang yang pro, sehingga mau nggak mau, kami terjebak pada hal-hal yang lumayan disayangkan ketika membantu mereka. Untuk menghindari lagi hal-hal tersebut, berikut hal yang perlu diamati untuk mengetahui partner kita adalah orang yang pro atau tidak. 1. Nomor Handphone Nomor handphone itu penting sebagai representatif profesionalisme. Pada dasarnya orang yang pro selalu menggunakan nomor paska bayar; misalnya kartu Halo dari Telkomsel (dengan nomor depan 0811xxxxx), atau Matrix (dengan nomor depan (0816xxxx atau 0855xxxx). Mengapa demikian? Karena orang yang pro berinvestasi pada bagaimana membangun jaringan/network, dan reputasi diri mereka. Apabila kamu beker...

GO-JEK lagi, GO-JEK lagi: Banyak Cerita tentang Go-Jek

Gambar
Hari gini, siapa sih yang tidak mengenal Go-Jek ! Start-up yang satu ini memang kelewat hits dari pertama kali ada. Sebenarnya nggak pas pertama kali ada sih, karena Nadiem membuat perusahaan ini di tahun 2010, dan menurut saya mulai naik daun di tahun 2014. Kala itu, info mengenai start-up lagi "boom" di Indonesia. Dalam waktu enam tahun, start-up asli Indonesia ini sudah menjadi unicorn-nya Indonesia. Go-Jek kalau bisa dibilang sudah sekelas Facebook lah kalau di Sillicon Valley, US. Sebagai pengamat start-up seperti  @startupwati , sebenarnya banyak hal yang terkadang membuat saya wow dan mikir banget dengan adanya Go-Jek, diantaranya; 1. Beda Wilayah Beda Harga Pada awal tahun 2016 lalu, saya diberi kesempatan untuk keliling Indonesia (kota-kota besar maksudnya), dan karena saya anak Go-Jek-ers, untuk keliling kota saya menggunakan Go-Jek. Kota pertama adalah Bandung, dimana pada saat itu sedang promo Rp10rb untuk semua tujuan. Selanjutnya Jakarta, dimana untuk...

Jenjang S2 di Indonesia Sampah? Sepertinya Begitu

Gambar
Baiklah, tulisan ini memang kontroversial, namun ada kalanya hal-hal sarkastik perlu ditulis agar menjadikan kita membuka mata. Mengenai jenjang S2 yang sampah ini, berkali-kali saya baca dan saya dengarkan dari beberapa orang, yang mana merupakan alumni dari S2, maupun masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, di dunia bisnis, jenjang S2 Indonesia ini juga dinilai sampah, yang mana tidak dibutuhkan di dunia bisnis. Mengenai jenjang S2 yang sampah, ada beberapa hal yang menjadikannya seperti itu. Berikut alasannya; 1. Alumni jenjang S2 sudah terlalu banyak di Indonesia. Dikarenakan hampir semua universitas membuka program S2, maka imbasnya adalah, semakin banyak lulusan S2 di Indonesia. Asumsikan saja ada 500 universitas di Indonesia yang membuka sekolah bisnis dengan jenjang S2, dan setiap tahun melahirkan 100 lulusan maka, Indonesia memiliki 10.000 alumni S2, dan setiap tahunnya akan terus bertambah.   Anyway , baru cuma S2 Bisnis loh, belum yang lain. Nah, karena terlalu banya...

Belajar dari X-Men Film Series

Gambar
Magneto - Xmen Ya, saya penggemar film XMEN. Dari dulu jaman SD, saya memang demen banget sama film yang satu ini. Meski nggak banyak baca komiknya, menurut saya versi film lebih menarik karena bagaimana Marvel memvisualisasikannya memang benar pas dan bikin mikir banget. Dari film Xmen, X-II, Xmen: Last Stand, Xmen First Class, The Day Future Past, dan yang terakhir banget adalah Xmen: Appocalypse, ini  menurut saya cocok banget di rating 9 di IMDB. Sebenarnya kenapa sih saya maniak banget film Xmen? Karena saya banyak belajar beberapa hal didalamnya, diantaranya: 1. Minoritas bukan berarti lemah dan kalah Ini belajar dari film pertama (dan mungkin semua film Xmen) bahwa minoritas bukan berarti lemah dan kalah. Seperti di film ini, mutan, adalah makhluk yang secara fisik berbeda (dan tidak sempurna), dan karena itu selalu dipinggirkan. Namun sebenarnya mereka memiliki kekuatan yang lebih dari yang lain. Begitu pula berkaca dengan diri sendiri, saya memang sering m...

Rangga (dan Cinta)! Apa yang Kamu Lakukan Padaku itu, JAHAT!

Gambar
Ja-hap Ya, quote film AADC 2 itu bener banget. Setelah film itu launching, Yogyakarta (tempat saya tinggal) jadi sorotan seluruh masyarakat Indonesia. Tak jarang banyak orang dari berbagai kota datang untuk ikut reka ulang adegan-adegan Rangga-Cinta di spot-spot Jogja. Duh, Rangga (dan Cinta)! Apa yang kamu lakukan ke aku (mungkin juga beberapa orang asli Jogja) JAHAT! Kenapa? 1. JOGJA makin macet Yaiyalah, secara di long weekend ini banyak yg mau dateng buat mengunjungi spot-spot adegan AADC2. Bahkan banyak juga yang melakukan reka ulang adegan AADC2. Konsekuensinya ya makin macet dimana-mana. Nggak cuma di tempat wisata itu aja, tapi juga di jalan-jalan protokol kayak Jalan Kaliurang (perempatan kentungan) dan juga Jalan Condong Catur (perempatan Concat-Gejayan) sekarang macet banget. Eh tapi memang kalau ga liburan macet juga sih. Ah yaudah lah memang takdirnya gitu. Nih, kalau mau reka ulang adegan AADC2 2. JOGJA makin mahal Karena mumpung jogja lagi...

Budaya "Too Negative" di Indonesia

Gambar
Ketika saya bekerja di perusahaan desain US yg berbasis di Kuala Lumpur beberapa tahun lalu, sering kali boss saya bilang "Hey you, that's too negative", ketika saya pesimis atau merespons sesuatu yg tidak mungkin bisa dilakukan. Ini menjadi motivasi bagi saya, bahwa segala sesuatu itu harus positif dan dengan semangat. Saya-pun flashback ketika kuliah di MMUGM yg waktu itu dosen-nya adalah bu Ida, yg dia juga sering mengajar di luar negeri. Kami di kelas Business Communication, sering diajarkan untuk selalu berkomunikasi dengan positif. Bahkan untuk hal-hal kecil yang disampaikan seperti kuis. Misalnya saja merubah kalimat "Dilarang Buang Sampah Disini" menjadi "Buanglah Sampah pada Tempatnya". Ini mengandung dua muatan, dimana kalimat pertama adalah paksaan dan negatif. Nah, mengenai komunikasi positif-negatif ini, juga saya rasakan ketika bekerja di perusahaan Indonesia. Betapa jetlagnya ketika di perusahaan luar selalu diajarkan sesu...

Random Acts of Kindness - Baik Ya, Baik Aja.

Gambar
Beberapa waktu lalu, ketika saya di Jakarta, saya sering sekali melakukan hal-hal yang orang kira baik, tapi menurut saya biasa aja. Misalnya adalah membantu orang menyeberangkan jalan ketika saya melintas, membantu membawakan barang ketika di lift saat si empunya rempong banget, ngasih tempat duduk di busway, atau ngasih biskuit ke anak-anak jalanan yang lagi belajar di jembatan penyebrangan. Pernah juga saya membantu bagian kerja lain untuk ikut mensukseskan event, padahal ternyata kerjaannya berat banget (musti nggak tidur dua hari dan keluar uang ratusan ribu untuk mencapai lokasi event). Nah, karena seringnya saya melakukan hal-hal tersebut, manajer saya (yang dulu) sering menegur saya, "Kamu ngapain sih, berbuat baik ke orang lain. Kamu terlalu helpfull !" Dan ini menjadi sindiran berujung penilaian performa kerja saya dulu (dalam artian menjadi negatif). Baik itu nggak perlu sampai musti disuruh. Ketika saya menceritakan hal tersebut ke teman saya, dia pun b...

4 Kemungkinan Ending dari Film AADC 2

Gambar
Siapa sih yang nggak tahu film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) yang hits di tahun 2000-an dan sekarang di tahun 2016 ini mulai diangkat lagi ke layar lebar. Sudah sering liat teaser  film nya AADC 2 itu kan. Buat yang nggak pernah lihat, coba deh cek di Youtube atau lihat meme -nya .   Trailer AADC 2 Nah, sebenarnya, trailer dan meme itu gantung banget karena nggak diceritain ending dari film ini. Yaiyalah, kalau diceritain, ntar jadi spoiler. Disini saya akan melakukan cenayang, gimana sih ending dari film AADC 2. P.S. Just for fun yah! Meme nya kayak gini Berdasarkan meme diatas, pas adegan ketemuan, ada beberapa kemungkinan apa yang mereka lakukan dan kemungkinan endingnya. 1. Rangga nya ngaku nggak suka cewek, dan si Cinta memutuskan jadi anak Punk yang mabuk-mabukan Ini memang out-of-the-box banget sih, tapi di meme yang beredar di social media emang banyak ngatain bahwa selama di New York, si Rangga jadi gay. Karena memang LGBT lagi hits aja sih. D...